Menu ✖

Otomatis

Headline

PSGAD STISNU Nusantara Tangerang Gelar Diskusi Kedua Angkat Isu Gen Z dan Wacana Gender

badge-check

PSGAD STISNU Nusantara Tangerang Gelar Diskusi Kedua Angkat Isu Gen Z dan Wacana Gender Perbesar

BANTENKINI.ID, TANGERANG — Pusat Studi Gender, Anak, dan Disabilitas (PSGAD) Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Nusantara Tangerang kembali menggelar diskusi publik bertema “Gen Z dan Wacana Gender: Antara Identitas Diri, Ruang Digital, dan Tuntutan Keadilan Sosial”, Selasa, 6 Januari 2026.

Kegiatan ini merupakan diskusi kedua yang diselenggarakan PSGAD STISNU Tangerang sebagai bagian dari komitmen berkelanjutan dalam merespons isu-isu sosial kontemporer.

Diskusi menghadirkan Dr. Inda Kartika, MA.Pol., akademisi dan pengamat isu gender dan politik, serta Mohamad Asrori Mulky, MA., pemerhati isu-isu sosial-keagamaan. Keduanya adalah dosen STISNU Nusantara Tangerang. Diskusi dipandu oleh Muhammad Riza Dzul Fahmi Aly, M.Pd., yang mengarahkan dialog secara dinamis dan partisipatif.

Dalam paparannya, Dr. Inda Kartika menegaskan bahwa generasi Z hidup di persimpangan antara realitas digital dan tuntutan keadilan sosial. Menurutnya, ruang digital telah menjadi arena utama pembentukan identitas dan wacana gender.

“Gen Z tidak hanya menggunakan media digital sebagai alat komunikasi, tetapi sebagai ruang eksistensial untuk membentuk identitas diri. Di ruang inilah wacana gender diproduksi, diperdebatkan, sekaligus dinegosiasikan,” ujar Dr. Inda Kartika, MA.Pol.

Ia menambahkan bahwa tantangan terbesar yang dihadapi generasi muda saat ini adalah kemampuan memilah informasi dan membangun kesadaran kritis di tengah arus opini yang sering kali ekstrem dan terpolarisasi.

“Tuntutan keadilan sosial dalam isu gender harus dibarengi dengan literasi digital dan empati sosial, agar tidak terjebak pada konflik simbolik yang justru menjauhkan kita dari nilai kemanusiaan,” tambahnya.

Sementara itu, Mohamad Asrori Mulky, MA. menekankan pentingnya pendekatan akademik dan etis dalam membicarakan isu gender, terutama di lingkungan perguruan tinggi berbasis keislaman. Ia menilai diskursus gender perlu diletakkan dalam kerangka keadilan dan kemaslahatan bersama.

“Isu gender bukan semata persoalan identitas, tetapi menyangkut martabat manusia. Karena itu, pendekatan yang kita gunakan harus berangkat dari nilai keadilan, kesetaraan, dan tanggung jawab sosial,” ungkap Asrori.

Ia juga menyoroti peran kampus sebagai ruang aman bagi dialog kritis dan inklusif.

“Perguruan tinggi harus menjadi ruang dialog yang sehat, tempat mahasiswa belajar berpikir kritis tanpa saling meniadakan. Diskusi seperti ini penting agar wacana gender tidak jatuh pada polarisasi, tetapi menjadi sarana pencerahan,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Asrori juga memastikan isu gender tidak hanya disuarakan oleh pihak perempuan seperti Nawal El Sadawi, Fatimah Mernisi, Amina Wadud, dan lainnya. Tidak sedikit akademisi, sarjana, dan tokoh publik dari kalangan laki-laki ikut serta menyuarakan isu tersebut. Ia menyebut nama-nama seperti Rif’at Tahthawi, Qasim Amin, Nasaruddin Umar, Mansor Fakih, dan KH, Husein Muhammad.

Diskusi ini mendapat respons positif dan antusias dari mahasiswa serta peserta yang hadir. Berbagai pertanyaan kritis muncul, terutama terkait peran media sosial dalam membentuk persepsi gender serta tanggung jawab institusi pendidikan dalam membangun kesadaran inklusif. Di antara pertanyaan yang disampaikan soal kepemimpinan wanita di ruang publik, kemungkinan gender mengganti tubuh biologis, nikah misyar yang merugikan kaum perempuan, dan praktik kumpul kebo yang terjadi di masyarakat.

Melalui kegiatan ini, PSGAD STISNU Nusantara Tangerang menegaskan komitmennya untuk terus menyelenggarakan diskusi lanjutan secara berkelanjutan sebagai upaya memberikan pencerahan kepada mahasiswa dan masyarakat luas terkait isu gender, anak, dan disabilitas.

Ke depan, PSGAD berharap forum-forum diskusi semacam ini dapat menjadi ruang refleksi dan transformasi sosial yang mendorong lahirnya kesadaran kritis, dialog yang berkeadaban, serta praktik keadilan sosial yang nyata di tengah masyarakat. Di tengah perubahan sosial yang terus terjadi dan mengarah kepada sikap individualisme, diperlukan PSGAD sebagai lembaga yang fokus menyuarakan keadilan untuk kaum perempuan, anak, dan kelompok disabilitas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Read More

Dosen Akuntansi Unpam Serang Gelar PKM Edukasi Kepatuhan Pajak Sektor UMKM Pasca-Harmonisasi Peraturan Perpajakan 2025

19 Oct 2026 - 13:01 WIB

Dosen Akuntansi Unpam Serang Gelar PKM Edukasi Kepatuhan Pajak Sektor UMKM Pasca-Harmonisasi Peraturan Perpajakan 2025

LT II Kwarran Pinang Diikuti 600 Peserta dan Dibuka Ketua Kwarcab Kota Tangerang

17 Oct 2026 - 10:46 WIB

LT II Kwarran Pinang Diikuti 600 Peserta dan Dibuka Ketua Kwarcab Kota Tangerang

Kontingen SOIna Banten Menuju Pesonas 2026 NTT

13 Oct 2026 - 06:13 WIB

Kontingen SOIna Banten Menuju Pesonas 2026 NTT

Edukasi Kewajiban Perpajakan dalam Meningkatkan Ketertiban Administrasi dan Kepatuhan Pajak UMKM Motekar 97

12 Oct 2026 - 09:11 WIB

Edukasi Kewajiban Perpajakan dalam Meningkatkan Ketertiban Administrasi dan Kepatuhan Pajak UMKM Motekar 97

Lembaga Kesehatan MUI Kota Tangerang Gelar Edukasi Kesehatan dan Pemeriksaan Kulit Gratis

8 Oct 2026 - 20:14 WIB

Lembaga Kesehatan MUI Kota Tangerang Gelar Edukasi Kesehatan dan Pemeriksaan Kulit Gratis
Trending on Daerah