BANTENKINI.ID, LAMONGAN – Setelah sempat menurun, ketinggian banjir di sejumlah wilayah Kabupaten Lamongan kembali meningkat pada Jumat (20/2/2026). Kondisi ini dipicu curah hujan tinggi serta luapan Bengawan Jero, membuat warga yang sudah terdampak sejak November 2025 semakin kesulitan.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letnan Jenderal TNI Suharyanto memastikan langkah penanganan darurat terus dilakukan, termasuk rencana penambahan pompa air di Pintu Air Kuro untuk mempercepat surutnya genangan.
Banjir masih terjadi di Desa Sidorejo, Kecamatan Deket, Kabupaten Lamongan. Banjir Tahunan Belum Tertangani Permanen
“Yang jelas kita belum bisa melaksanakan langkah-langkah permanen untuk menyelesaikan banjir ini, karena ini banjir tahunan. Kurang lebih sudah tiga bulan, sejak November, kita lakukan langkah-langkah kedaruratan sesuai tugas dan tanggung jawab untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi,” ujarnya.
BNPB bersama pemerintah daerah fokus pada pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak, mulai dari logistik, layanan kesehatan, hingga dukungan sarana evakuasi.
Evaluasi dilakukan guna mempercepat surutnya genangan di sejumlah titik terdampak.
Sebagai langkah jangka pendek, BNPB akan menambah kapasitas pompa air untuk mempercepat penurunan debit genangan. Saat ini, pompa besar yang tersedia di lokasi terdapat 18 pompa di Sluis Kuro dan 2 pompa di Melik Kecamatan Kalitengah.
Tambahan Mobile Pump 500 Liter per Detik
“Kita akan tambah satu atau dua pompa besar lagi. Pompa besar ini jenis mobile pump dengan kapasitas 500 liter per detik. Diharapkan bisa mempercepat penurunan banjir di wilayah Lamongan,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Deputi Penanganan Darurat BNPB juga menyerahkan bantuan sembako kepada warga terdampak sebagai bentuk dukungan pemenuhan kebutuhan harian selama banjir belum sepenuhnya surut.
Sementara itu, Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi menuturkan langkah paling efektif yang dapat dilakukan saat ini untuk mempercepat surutnya banjir di wilayah Kecamatan Deket adalah melalui pompanisasi.
“Langkah yang bisa kita lakukan sekarang adalah pompa. Untuk mengurangi dengan cara lain, efeknya terhadap penurunan air hanya sedikit. Karena itu kita optimalkan pompanisasi,” katanya.
Selisih Tinggi Air 66 Sentimeter
Ia menyampaikan, hingga saat ini masih terdapat selisih ketinggian air sekitar 66 sentimeter sehingga air belum dapat mengalir keluar secara maksimal.
Ia menyambut baik dukungan penambahan pompa besar dari BNPB. Rencananya, satu hingga dua unit pompa besar jenis mobile pump dengan kapasitas 500 liter per detik akan ditambahkan untuk membantu mempercepat penurunan muka air
Pemerintah daerah bersama BNPB terus berkoordinasi untuk memantau perkembangan tinggi muka air dan kondisi cuaca, sembari menyiapkan langkah lanjutan apabila curah hujan masih tinggi dalam beberapa pekan ke depan.
“Mudah-mudahan dengan tambahan satu atau dua pompa ini bisa membantu percepatan penurunan air. Kita juga berharap dalam beberapa hari ke depan hujan tidak terlalu lebat, sehingga debit air yang masuk bisa kita kendalikan dengan baik,” katanya.











