BANTENKINI.ID, TANGERANG SELATAN – Budayawan Chavchay Syaifullah meminta agar lembaga atau organisasi atau komunitas kesenian tidak sekedar berisi keramaian atau struktur atau nama-nama, tapi harus punya daging segar berupa energi kemanusiaan yang benar-benar menyentuh realitas sosial.
Demikian diungkapkan Chavchay dalam pembukaan pameran lukisan bertajuk “EKSPLORATIF!” di Pasuryan Studio, Tangerang Selatan, Banten, Minggu, 8 Februari 2026.
Pameran Eksploratif! ini hadir sebagai ruang silaturahmi—ruang refleksi agar organisasi seni tidak tinggal rangka, dan seni tidak berhenti pada konsep tanpa sentuhan kemanusiaan.
Berlangsung selama sepekan, 08–15 Februari 2026, EKSPLORATIF menghadirkan rangkaian kegiatan berupa pameran seni rupa, sesi SAJAK DAN MAKNA (kolaborasi akustik dan baca puisi), serta pertemuan lintas gagasan. Fokus kegiatan ini diharapkan bukan sekedar jumlah karya atau nama besar, melainkan pada posisi seniman di tengah realitas sosial hari ini.
Dalam sesi SAJAK DAN MAKNA, Budayawan Chavchay Syaifullah menegaskan bahwa seni tidak semestinya diukur dari pencapaian simbolik—berapa karya dibuat, terjual, atau seberapa sering berpameran. Seni, menurutnya, adalah proses panjang yang menuntut kepekaan, perenungan, dan keberanian untuk terlibat dalam peristiwa kemanusiaan.
Ia menganalogikan proses kreatif seperti hujan: tidak hadir secara instan, melainkan lahir dari perjalanan panjang—dari laut, angin, awan, hingga akhirnya jatuh ke bumi dan menghidupi. Dari proses itulah kehidupan tumbuh, dan dari proses pula seni seharusnya dilahirkan.
Chavchay juga menyinggung jarak emosional yang kerap tercipta antara seniman dan realitas sosial di sekitarnya. Tragedi-tragedi kecil yang sering luput dari perhatian publik menjadi cermin sejauh mana sensitivitas kemanusiaan benar-benar dipraktikkan, bukan sekadar diwacanakan.
Melalui kegiatan yang digagas oleh Seniman Tangerang Raya – SETARA Art, ini, Chavchay menempatkan seniman bukan hanya sebagai produsen karya, tetapi sebagai subjek etis—yang dituntut hadir, peka, dan bertanggung jawab terhadap ruang sosial, politik, dan ekonomi yang melingkupinya. Seni rupa diposisikan sebagai medium untuk memurnikan kembali kemanusiaan di ruang publik.
-Arie Siswana











