BANTENKINI.ID, KUDUS – Bencana banjir terjadi di daerah Kudus, Jawa Tengah, yang mengakibatkan 5.425 rumah terendam di 38 desa, tujuh kecamatan dan 43.479 jiwa atau 13.956 kepala keluarga terdampak. Tidak hanya itu, belasan tempat ibadah, serta puluhan fasilitas pendidikan ikut terendam banjir.
Bencana ini menyebabkan dua orang meninggal dunia akibat kecelakaan air dan memaksa ribuan warga mengungsi di belasan titik pengungsian.
Selain banjir, tanah longsor dilaporkan terjadi di ratusan titik yang tersebar di 14 desa dan menelan satu korban jiwa. Cuaca ekstrem juga disertai angin kencang yang memicu pohon tumbang di sejumlah wilayah, menutup akses jalan, merusak rumah warga, serta menghantam kendaraan yang melintas.
Rangkaian bencana tersebut mendapat perhatian pemerintah pusat. Atas instruksi langsung Presiden Prabowo Subianto, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Dr. Suharyanto, S.Sos., M.M., turun langsung untuk meninjau posko pengungsian banjir di Aula Gedung DPRD Kudus, Jumat (16/1/2026).
Pemerintah pusat mulai menyiapkan langkah-langkah penanganan banjir di Kabupaten Kudus menyusul bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah tersebut.
Dalam kunjungannya, Letjen Suharyanto juga menyampaikan pesan belasungkawa dari Presiden Republik Indonesia kepada warga terdampak banjir, baik yang masih bertahan di pengungsian maupun yang berada di rumah masing-masing.
“Tentu kehadiran saya di sini membawa pesan dari Bapak Presiden, turut berbelasungkawa dan turut berduka cita kepada Bapak-Ibu sekalian. Kami juga akan berupaya membawa solusi untuk mengatasi permasalahan ini semampu mungkin,” ujar Suharyanto.
Ia menyampaikan bahwa penanganan banjir di Kudus menjadi bagian dari agenda maraton pemerintah pusat bersama daerah lain yang juga terdampak bencana hidrometeorologi.
Suharyanto mengungkapkan, sejak hari pertama banjir terjadi, BNPB telah menerjunkan tim ke lokasi untuk melakukan kaji cepat serta menyusun langkah-langkah penanganan yang diperlukan. Bantuan kebutuhan dasar bagi warga terdampak juga telah disalurkan secara bertahap.
“Untuk jangka pendek, kami fokus agar tidak terjadi banjir susulan. Salah satunya melalui operasi modifikasi cuaca yang sudah dimulai sejak dua hari lalu. Mudah-mudahan satu hingga dua hari ke depan tidak turun hujan,” jelasnya.
Meski demikian, Suharyanto menegaskan bahwa hujan merupakan anugerah Tuhan yang tidak mungkin dicegah sepenuhnya. Oleh karena itu, solusi jangka menengah dan jangka panjang akan dibahas lebih lanjut bersama pemerintah daerah dan instansi terkait setelah masa tanggap darurat berakhir.
Dalam sesi dialog, salah satu pengungsi asal Desa Karangrowo, Syahrul, menyampaikan aspirasi warga agar pemerintah pusat memberikan perhatian serius terhadap kondisi Sungai Juwana yang dinilai menjadi penyebab utama banjir.
“Kami mohon kepada pemerintah pusat agar aliran Sungai Juwana di wilayah kami bisa dinormalisasi. Ini sudah menjadi masalah utama setiap kali hujan deras,” ungkap Syahrul.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Sudarto membenarkan bahwa pendangkalan dan penyempitan sungai menjadi persoalan serius, khususnya di wilayah Kudus dan sekitarnya.
“Memang perlu dilakukan normalisasi sungai. Kondisinya sudah sangat kritis dan sudah lama tidak dilakukan penanganan menyeluruh. Saat ini prosesnya sedang berjalan, namun membutuhkan waktu serta koordinasi lintas pihak,” kata Sudarto.
Ia juga menyoroti faktor sampah yang memperparah kondisi sungai-sungai kecil di kawasan permukiman warga. Banyaknya saluran air yang tersumbat akibat sampah rumah tangga dinilai turut meningkatkan risiko banjir.
“Kami mohon partisipasi masyarakat untuk tidak membuang sampah ke sungai. Air itu akan mencari ruangnya sendiri. Jika saluran tersumbat, maka banjir tidak bisa dihindari,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Kepala BNPB juga menyerahkan bantuan kepada para pengungsi berupa sembako, kebutuhan dasar, serta mainan anak-anak untuk menghibur mereka di lokasi pengungsian.
Usai meninjau posko pengungsian, Kepala BNPB melanjutkan agenda dengan menggelar rapat darurat bersama Bupati Kudus, DPRD, serta para pemangku kepentingan terkait guna merumuskan langkah-langkah lanjutan penanganan bencana banjir di Kabupaten Kudus.











